10 Wisata Muktamar Muhammadiyah 48

simupha.co.id – Muhammadiyah adalah salah satu organisasi tertua yang ada di Indonesia beridiri di kota Jogjakarta tepatnya di sebuah kampung Kauman pada tanggal 18 November 1912 oleh Muhammad Darwis atau biasa dikenal deng K.H. Ahmad Dahlan. dalam hal ini Muhammadiyah telah melaksanakan sebanyak 47 kali Muktamar dan pada pertengahan tahun ini tepatnya 1- 5 Juli 2020 Muhammadiyah akan melkasanakan Muktamar yang ke 48 di kota Surakata. Berdasarkan informasi dari panitia penerima Muktamar 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah, Kota Solo akan kedatangan 1,5 juta Keluarga Besar Muhammadiyah se Indonesia, baik itu peserta ataupun penggembira.

Kali ini kami akan memberikan informasi untuk para calon penggembira Keluarga Muhammadiyah, sebelum mau datang di pelaksanaan Muktamar 48 Muhammadiyah di Solo selama 5 hari di Bulan Juli mendatang tentang tempat wisata di kota Solo.

Berikut adalah 10 obyek wisata yang dekat dengan Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, disarikan dari beberapa sumber:

1. Museum Batik Danar Hadi

Museum Batik Danar Hadi terletak di Jalan Brigjend Slamet Riyadi No.261 Surakarta, untuk harga tiket masuk per orang sebesar Rp 35,000 yang dimana kita langsung ditemani oleh seorang guide tanpa biaya tambahan. Berdiri sejak tahun 1967, Danar Hadi juga membuat Museum Batik Danar Hadi yang memiliki 10.000 lembar kain, yang diresmikan di tahun 2002 oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Batik-batik yang berada di dalamnya kebanyakan merupakan koleksi pribadi dari H. Santosa Doellah, ada batik-batik yang dibeli dari lelang, pemberian dari beberapa publik figur tenar, dan ada pula batik yang dibuat di workshop Danar Hadi. Karena kuantitasnya yang buanyak itu, museum ini juga masuk MURI.

Jika mau ke Museum Batik Danar Hadi, silakan klik di sini

Gb. Suasana Museum Batik Danar Hadi Surakarta
Gb. Suasana Museum Batik Danar Hadi Surakarta

2. Kampung Batik Laweyan

Ingin merasakan wisata heritage yang menarik di Solo? Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu destinasi yang tidak dapat dilewatkan. Kampung kuno nan eksotis ini memiliki andil sejarah yang besar dalam perjalanan batik di Kota Solo. Terletak di sisi selatan Kota Solo dan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, kampung bersejarah ini menjadi favorit baik bagi turis domestik maupun mancanegara. Kampung ini terkenal sebagai tempat untuk melihat proses pembuatan dan belanja batik Solo. Kesan klasik di kampung ini akan memberikan pengalaman berbelanja batik yang berbeda bagi anda. Kampung Laweyan hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota solo dan mudah dijangkau dari arah manapun. Selain sebagai kampung batik, Laweyan juga merupakan kawasan cagar budaya yang di dalamnya terdapat situs-situs bersejarah lainnya. Seselesainya melihat-lihat dan membeli batik anda bisa berkunjung ke Masjid Laweyan, Langgar Merdeka, dan Langgar Makmoer.

Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu kawasan sentral batik di Solo yang sudah berdiri sekitar 400-an tahun yang lalu. Kampung ini sudah ada sejak tahun 1546 di zaman Kerajaan Pajang. Memasukki tahun 1900-an kampung batik ini memasukki masa-masa kejayaanya dimana banyak terdapat saudagar dan pengusaha batik pribumi. Di era kejayaan ini pula berdirilah Serikat Dagang Islam (SDI) yang merupakan wadah bagi para pedagang pribumi. SDI ini berisikan pengusaha-pengusaha batik dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. SDI ini bermaksud untuk melindungi pedagang-pedagang pribumi dari perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda dan dari kompetitor asal China.

Jika mau berkunjung di Kampung batik Laweyan, silakan klik di sini

gb. Kampung Batik Laweyan Solo
Gb. Kampung Batik Laweyan Solo

3. Pura Mangkunegaran

Sebagai perwujudan dari Pangeran Sambernyawa yang sudah digembleng kerasnya kehidupan sejak kecil membuat Puro Mangkunegaran kokoh bertahan di tengah arus modernisasi. Istana Mangkunegaran (Bahasa Jawa: Purå Mangkunagaran) adalah istana resmi Kadipaten Praja Mangkunegaran dan tempat kediaman para penguasanya (Sampéyan Ingkang Jumeneng). Bangunan ini berada di Surakarta. Istana ini mulai dibangun pada tahun 1757 oleh Mangkunegara I dengan mengikuti model keraton. Secara arsitektur kompleks bangunannya memiliki bagian-bagian yang menyerupai keraton, seperti memiliki pamédanpendapapringgitandalem, dan keputrèn. Seluruh kompleks dikelilingi oleh tembok, hanya bagian pamédan yang diberi pagar besi.

Pura ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran ditandatangani oleh kelompok Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I), Sunan Pakubuwana III, dan VOC pada tahun 1757. Pangeran Sambernyawa, julukan bagi Raden Mas Said, diangkat menjadi “Pangeran Adipati” bergelar Mangkunegara I. Sebagaimana bangunan utama di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, Istana Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang populer saat itu.

Bagi yang mau ke Pura Mangkunegaran, dapat klik di sini

Gb. Pura Mangkunegaran Surakarta
Gb. Pura Mangkunegaran Surakarta

4. Solo Paragon Mall

Solo Paragon Lifestyle Mall yang berkonsep “shopping, dining, entertainment” ini merupakan salah satu properti di kawasan Superblok Solo Paragon seluas 4,1 hektare yang berada di jantung kota Solo. Solo Paragon Lifestyle Mall berdiri di atas 5 lantai termasuk lantai parkir dengan luas mal 60.000 m2 dan area parkir yang memiliki daya tampung setidaknya 1.000 mobil dan 700 motor.

Bagi yang mau ke Pura Mangkunegaran, dapat klik di sini

Gb. Solo Paragon Mall
Gb. Solo Paragon Mall

5. Pasar Triwindu

Pasar Triwindu (bahasa Jawa: ꦥꦱꦂ​ꦠꦿꦶꦮꦶꦤ꧀ꦝꦸ) adalah pasar barang-barang antik, tiruannya, serta onderdil khusus (klithikan) yang berada di Kota Surakarta. Pasar ini dibangun di selatan kompleks Istana Mangkunegaran, tepatnya di sisi timur boulevard yang mengarah ke gapura istana. Secara administratif berada di wilayah kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Disebut Triwindu karena dibangun pada tahun 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (tiga windu) masa pemerintahannya.

Pada 5 Juli 2008, pasar ini dipugar dan dibuat bangunan baru yang disesuaikan dengan arsitektur budaya Solo. Pasar itu dibuat menjadi dua lantai, sehingga kios-kios yang awalnya berhimpitan menjadi agak longgar. Sehingga, pasar ini menjadi memiliki halaman yang luas untuk parkir. Di area parkir yang luas ini sering digunakan sebagai kegiatan seni budaya, baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. Semenjak dipugar menjadi megah, pasar ini berubah namanya menjadi Pasar Windujenar oleh Pemkot setempat. Padahal, merujuk pada sisi sejarah berdirinya pasar tersebut adalah untuk memperingati KGPAA Mangkunegara VII yang telah bertahta selama 24 tahun atau istilahnya adalah triwindu. Akhirnya, pada 17 Juni 2011 nama pasar ini dikembalikan sesuai aspek historisnya, yaitu Pasar Triwindu

Bagi yang mau ke Pasar Triwindu, dapat klik di sini

Gb. Pasar Triwindu Solo
Gb. Pasar Triwindu Solo

6. Pasar Klewer

Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini juga merupakan pusat perbelanjaan kain batik yang menjadi rujukan para pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Bangunan pasar dua lantai ini menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Pasar Klewer tidak hanya sebagai pusat perekonomian, tetapi juga tujuan wisata dan simbol Kota Surakarta

Bagi yang mau ke Pasar Klewer Solo, dapat klik di sini

Gb. Pasar Klewer Solo
Gb. Pasar Klewer Solo

7. Kraton Surakarta Hadingrat

Keraton Surakarta adalah istana resmi Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743.

Walaupun Kasunanan Surakarta tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia sejak tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata utama di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Bagi yang mau ke Keraton Surakarta Hadiningrat, dapat klik di sini

Gb. Keraton Kasunanan Solo
Gb. Keraton Kasunanan Solo

8. Taman Balekambang

Taman Balekambang adalah taman yang dibangun oleh KGPAA Mangkunegara VII untuk kedua putrinya, yaitu GRAy Partini dan GRAy Partinah. Oleh karena itu, dua patung dari putri ini juga diletakkan di dalam taman. Selain itu, taman yang terbagi dua juga diberi nama sesuai dengan nama kedua putri, yaitu Partinah Bosch yang merupakan semacam hutan kota, dan Partini Tuin, yang merupakan kolam air. Taman ini terletak di Jl. Ahmad Yani, Surakarta dengan area seluas 9,8 Ha dan dibuka untuk umum mulai pukul 07.00 sampai pukul 18.00 WIB setiap hari.

Bagi yang mau ke Taman Balekambang, dapat klik di sini

Gb. Taman Balekambang
Gb. Taman Balekambang

9. Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Kraton Surakarta pada masa pra kemerdekaan adalah masjid agung milik kerajaan (Surakarta Hadiningrat) dan berfungsi selain sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat syiar Islam bagi warga kerajaan. Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini merupakan masjid dengan katagori masjid jami’, yaitu masjid yang digunakan untuk salat berjamaah dengan ukuran makmum besar (misalnya Sholat Jumat ataupun Sholat Ied).

Dengan status sebagai masjid kerajaan, masjid ini juga berfungsi mendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten. Raja (Sunan) Surakarta berfungsi sebagai panatagama (pengatur urusan agama) dan masjid ini menjadi pelaksana dari fungsi ini. Semua pegawai masjid diangkat menjadi abdi dalem kraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (untuk penghulu) dan Lurah Muadzin untuk juru adzan.

Bagi yang mau ke Masjid Agung Surakarta, dapat klik di sini

Gb. Masjid Ageng Surakarta
Gb. Masjid Ageng Surakarta

10. Museum Keris

Yang terakhir destinasi wisata di Solo adalah Museum Keris Nusantara. Museum Keris Nusantara merupakan sebuah museum yang dibangun oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman sejak 2013 lalu diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Rabu, 9 Agustus 2017. Museum Keris berada di lokasi eks gedung Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mangunjayan, dan direncanakan akan menyatu dengan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Stadion R Maladi Sriwedari. Museum Keris dibangun dengan program Tugas Pembantuan, yang pelaksanaanya dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta (sekarang Dinas Kebudayaan).

Bagi yang mau ke Museum Keris Surakarta, dapat klik di sini

Gb. Museum Keris Surakarta
Gb. Museum Keris Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *