Mirasantika dan Generasi Bangsa Ber-Keadaban

Beberapa hari ini dunia maya ramai diperbincangkan munculnya Perpres Tentang Legalitas Miras di negara kita dengan berbagai reaksi yang beragam dari masyarakat. Persoalan Mirasantika tidak hanya ada pada era modern, di jaman kenabian miras telah menjadi fenomena kehidupan pada masa itu. Turunnya ayat Al-Qur’an tentang Khamr adalah bukti otentik fenomena masa itu, karena mabuk menjadi penghalang untuk berpikir baik dan melaksanakan ibadah sehingga Allah SWT menurunkan ayat tersebut. Dalam Surat Al-Maidah Ayat 90-91 Allah SWT berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?

Pada ayat 90 tersebut, Allah swt. berfirman “fajtanibuuhu/maka jauhilah” yang menekankan keharaman khamr dan hal-hal yang disebutkan di dalam ayat. Allah swt. dengan tegas menunjukkan keharaman untuk mendekati minuman keras, apalagi mengonsumsinya.

Kedua: Hadis riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar r.a.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ» (رواه مسلم)

Dari Ibnu Umar r.a. bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (H.R. Muslim)

Akan menjadi kontraproduktif ketika Institusi Negara yang berdiri diatas konsep dan landasan Pancasila dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dimana kita tidak hanya mengakui keberadaan Tuhan tetapi juga melihat ayat dan firman Tuhan dalam membuat kebijakan demi kemaslahatan ummat. Sejak kecil guru-guru kita selalu mengajarkan bagaimana kita berprilaku baik dan berkeadaban sesuai dengan kaidah dan norma agama serta yang berlaku di masyarakat.

Dalam konteks pembelajaran formal pun dari TK-Perguruan Tinggi kita di didik untuk mempunyai adab yang baik dan menghindari dari perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat dengan agama dan Pancasila sebagai implementasi kehidupan bernegara. Tidaklah elok kita bicara Pancasila tetapi kita sendiri merusak tatanan Pancasila itu sendiri dengan kebijakan yang merusak moral generasi bangsa.

Potret lahirnya Perpres tentang Legalitas Miras adalah kebijakan yang sembrono dan tidak sesuai dengan tata nilai Pancasila dan agama di Negara kita. Investasi legal soal miras tidak akan menjadikan bangsa ini menjadi lebih maju, tetapi akan semakin menjerumuskan kedalam kerusakan moral dan adab. Generasi masa depan tidak lagi menjadi tumpuan negara untuk maju karena rusaknya moral, sehingga tidaklah berlebihan kebijakan tersebut menjadi cacat moral bahkan cacat menurut agama.

Tanpa mengurangi rasa hormat mirasantika ini bukanlah solusi untuk menaikkan devisa negara, tapi menjadi malapetaka dan cacatnya moral agama kita di hadapan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai bangsa yang berlandaskan pada internalisasi nilai-nilai agama sangatlah setuju jika Perpres itu dibatalkan untuk mendukung program Indonesia Ber-kemajuan dan Ber-keadaban di masa depan.

Sebagai pemangku kepentingan mulai dari Presiden, DPR, Menteri, Bupati/Walikota tetaplah harus memperhatikan bahwa negara kita berlandaskan nilai-nilai kehidupan Pancasila yang di dalamnya ada agama sebagai bagian kehidupan kita sebelum membuat kebijakan.

Insya Allah kita semuanya akan terhindar dari malapetaka dan rusaknya moral anak-anak bangsa generasi penerus masa depan jika semua komponen bangsa (para pemimpin) bersatu menghindarkan diri dari kebijakan-kebijakan yang merusak dan menjauhkan dari nilai-nilai agama dan Pancasila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *